Abstrak

Abstrak

Selasa, Januari 20, 2009

PULANG

Oleh: Irwan Dwi Kustanto

Selepas aliran sungaimu terhenti, aku kosong
Tak kudapati secangkir teh beruap senyum
Lagu-lagu bersyair dedaunan merintih
Dan entah lari kecilmu dilenganku,
Kau toleh hujan yang menggerimis
Malampun kian larut,
Hingga jemarimu tak sanggup lagi bercerita
Alang-alang dihalaman depan rumah
Ranting-ranting bambu yang menua dipinggir jalan
Batu-batu yang terus menghitam diseberang zaman
Dan tarikan nafasku, berhembuslah

Setahun sudah kumencarimu, engkau dimana ?
Aku tersesat
Kumasuki hutan-hutan emosimu
Kuarungi sungai-sungai risaumu
Kuhampiri dan seberangi danau-danau cemburumu
Bahkan aku lupa akan kakiku yang meratapi debu
Sampai hujanpun tak lagi mengenali jejak rintiknya
Engkau dimana ?

Tiba-tiba kudengar, engkau bernyanyi
Berseruling mengalirkan huruf-huruf kedalam puisi
Inikah engkau ?
Bukankah aku buta dan tuli ?
Hai belalang, aku dapat melihat
Hai kupu mengapa aku bisa mendengar ?
Tetapi..,
Tetapi mengapa hanya engkau yang dapat kulihat ?
Mana suara-suara halilintar, angin, burung-burung ,
Dan anak-anak angsa ?

Oh…
Engkau telah membuat semesta berdimensi satu
Bahkan mata dan telingaku pun sama merasa
Cinta
Cinta
Dan cinta

Tidak ada komentar: