Oleh: Irwan Dwi Kustanto
Jangan lepaskan jemarimu dari bola mataku
Aku akan terus berjalan disela kerlipmu
Mengatur nafas untuk menghela nasib
Kudengar dari balik fajarmu,
Sepotong doa yang terlukis
Pada langit subuh bergemuruh alunan adzan, begitu tabah
Aku akan berlari menghampiri embun duhamu
Yang berteriak disela gemuruh takdirku,
Seorang buta yang hanya menunggu
Saat gugurnya daun jati usai adzan subuh
Yang ranting-rantingnya menimpa rerumputan
Saat menanti gerimis
Yang akar-akarnya tak lagi merindukan butiran air tergelincir
Dari jemarimu yang basah
Hingga suaramu membangunkan mimpiku yang menetes
Pada daun jati, lalu mematahkan ranting
Dan membelah akar-akarnya,
Untuk sebuah harapan, pintaku
Jangan lepaskan jemarimu dari dua bola mataku
Abstrak

Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar