Abstrak

Abstrak

Selasa, Juli 23, 2013

Puisi Langkah Seribu Bintang oleh Rike Diah Pitaloka karya Irwan Dwikustanto

Pembacaan puisi berjudul "Langkah Seribu Bintang" karya Irwan Dwikustanto oleh Rike Diah Pitaloka pada peluncuran antologi Angin Pun Berbisik di Gedung Kesenian Jakarta, 23 Januari 2008.

Jumat, Mei 27, 2011

Permainan Kata, Simbol, Asosiasi dan Bunyi

Oleh: Mohamad Sobari

Puisi ditulis tidak terutama untuk dipahami, melainkan untuk dinikmati. Para sarjana sastra, para kritikus, para penyair, dan mereka yang disebut ahli puisi, mungkin berpendapat lain karena mereka melihat puisi dari lebih banyak sudut pandang. Saya bukan bagian dari golongan itu.

Saya bersentuhan dengan puisi sebagai penikmat. Dengan sendirinya, meskipun saya tidak mengerti puisi tapi bisa menikmati puisi, seperti halnya banyak orang tak mengerti ujung pangkal persoalan musik, dan tak bisa memainkan instrumen musik apa pun, tapi mereka---juga saya---masih bisa menikmati keteraturan dan harmoni bunyi musik, dan makna-makna simbolis yang dikandungnya.

Ini karena puisi dan musik bersentuhan bukan dengan akal budi, dan rasionalitas, melainkan lebih dekat dengan dunia batin, dan perasaan manusia.

Puisi bisa dinikmati dengan mata wadak, karena komposisinya yang bagus, misalnya tersusun dalam bentuk segitiga sama kaki, atau segi tiga terbalik. Sebagian dalam komposisi piramida.

Selebihnya ada yang tampil dalam bait-bait biasa, yang membuat jiwa kita ikut hanyut dalam plastisitas permainan kata, permainan simbol dan bunyi dan ada kalanya kita mengikuti asosiasi antara kata, bunyi dan makna-makna yang tak jarang telah kita kenal secara akrab.

Ada bahkan puisi yang tak memperlihatkan komposisi, misalnya puisi satu baris kalimat, karya penyair Toba, Sitor Situmorang, berjudul "Malam Lebaran"

Bulan di atas kuburan

Ada pula puisi yang bisa dinikmati dari segi komposisinya yang tak terlalu "lazim", yang merupakan hasil "perjuangan" mencari kebaruan-kebaruan, yang kemudian diikuti banyak penyair lain, seperti dapat dicontohkan pada karya-karya Sutardji Chalzoun Bachri.

Sementara itu permainan kata dan bunyi, yang membuat kita mengasosiasikannya dengan kata dan bunyi lain---yang bisa saja tak harus sama dengan apa yang dimaksudkan Tardji sendiri---dapat ditemukan dalam bunyi "ngiau" yang mudah kita terka simbol atau bunyi apa. Patut dicatat bahwa pada dasarnya puisi-puisi Tardji disebut puisi "gelap" : puisi abstrak, simbolik dan tak mudah ditebak maknanya.

"Angin Pun Berbisik": Kumpulan Sajak Cinta, yang ditulis oleh satu keluarga "aneh" yang semuanya penyair--- atau semua berusaha dan mencoba menjadi penyair---ini pula pelan-pelan membawa saya ke satu kenikmatan kenikmatan lain. Ada kenikmatan bunyi, ada kenikmatan kata dan symbol, yang mengikat dan mempertautkan kita dengan perasaan dan pengalaman masa lalu kita. Tapi sebagian dengan jelas mempertautkannya dengan sejarah dan pengalaman masa lalu para penyair ini sendiri.

Sebetulnya saya tak harus mengatakan bahwa sajak bukan lahir dari rindu yang melankolik, dan ketika kita yang sedang rindu itu melihat bulan langsung lahir sebuah sajak. Sajak yang lahir karena melihat bulan, atau menghayalkan bunyi ombak dan watak lautan, biasanya hanya menjadi "sajak-sajakan" yang dangkal dan hampa dari makna. Sajak yang intens selalu lahir dari sejarah kegetiran, dari perjuangan, dan dari makna-makna terdalam, yang menyentuh penghayatan dan dunia nilai di dasar kehidupan manusia.

Sajak "Nisan", karya Chairil Anwar, misalnya, lahir dari kegetiran hidup seorang cucu yang kehilangan sang nenek yang sangat dicintainya. Juga karya Chairil lainnya: "Tak Sepadan" misalnya.

Buku ini memperlihatkan dengan nyata, dan secara simbolik menyiratkan penghayatan dan pengalaman sejarah yang intens di dalam hidup para penyairnya. Tapi saya hanya bisa menampilkan sebagian yang saya tangkap dengan cepat, Ini yang berhubungan dengan kata -kata dan simbol di baliknya;

Kudengar entah suara siapa
Melengking melantunkan doa
( "Angin Pun Berbisik" 4)

Kudengar angin pun berbisik
Hampa mendera di antara kita:
Sepi, dan...
Semakin menggeletar ketika angin berlalu
(Dari judul yang sama, penyair yang sama).

Cinta dan rinduku padamu
Hanya dewa yang menyimpannya
( "Cintaku Padamu").

Namun dalam syair doaku-doaku
Namamu,masih mewarnai guratannya
("Angin Pun Berbisik" 5)

Sajak-sajak ini memberi kenikmatan kita, dan kita diberi kebebasan untuk memaknainya secara subyektif, sesuai dengan batas pengalaman dan penghayatan kita atas hidup, ketakutan, rasa cemas dan doa, yang mungkin membebaskan kita dari rasa takut dan kecematasan itu.

Ataukah doa hanya respons latah? Mengapa doa yang tampil? Usaha mencari pemecahan masalah secara mudah, dan bahkan yang termudah dari semua yang bisa ditempuh manusia? Ataukah doa merupakan cermin kedalaman iman, ketulusan dan kegigihan meluhurkan Tuhan, dan yang akan dengan sendirinya membuat segala masalah lenyap, selesai, dan tuntas?

Saya tak ingin menjawab persoalan-persoalan ini untuk membiarkannya menjadi bagian dari kompleksitas sajak-sajak di dalam buku ini. Selebihnya saya pun merasakan indahnya ungkapan kata-kata di bait-bait terakhir sajak Irwan, dengan judul "Cemburu" 2, berikut;

Sedang rembulan di tanangmu belum jua membelah
Malam untuk dibaringkan
Pada bantal yang selalu basah
Karena air mata tak cukup mengucap cinta

Saya merasakan ungkapan-ungkapan Irwan yang belum pernah saya baca sajaknya sebelum ini, begitu kuat. Namun tentu saja ada yang berakhir lemah, kurang daya dan tak punya gema, mungkin karena salah memilih kata atau ungkapan?

Ia tak punya pilihan
Cinta menjadikannya luruh pada nasibnya;
di mana perempuan selalu menerimanya;
sebagai mimpi yang harus dirajutnya

Saya merasakan ungkapan ini seperti sebuah pidato yang membosankan. Mungkin karena penyairnya belum terlalu terlatih dan masih sibuk melawan gangguan kedangkalannya sendiri?

Siti,Atmamiah, dalam puisi "Gubah" mengingatkan kita pada lagu tahun 1970-an "Blue blue my love is blue", ketika ia berdendang:

Dan langit berubah menjadi puisi
Hidupku
Untuk kau gubah kembali
Dengan biru cintamu

Dalam puisi "Ibu", Siti berkata;

Ibu,
Kupinjam surgamu
Melebar legam tubuhmu

Ia menyampaikan pada kita makna simbolik Ibu sebagai pemilik, atau pembawa (?) surga, sebagaimana kita kenal baik ungkapan" surga di bawah telapak kaki ibu"

Dalam puisi "Kepada Adam", kita disuguhi oleh Siti, penghayatan atas pengalaman sejarah, tapi tanpa kegetiran, tanpa rasa duka. Pengalaman dan sejarah di sini tampil dalam wajah rutinitas yang datar, dan mungkin juga hambar karena tanpa sekeping pun unsur dramatik di dalamnya.

Aku adalah waktu yang rindu
Berbaring dan mengenang
Lembar demi lembar
Cerita lama
Ketika malam tiba-tiba
Menjadi pagi

Tetapi di dalam "Ketika Putri Kecilku Melihat Bulan" kita disuguhi asosiasi yang begitu alamiah melalui cara pandang kanak-kanak;

"Mama, aku melihat bola
Di atas sana
Putih warnanya
Seperti bola mainanku"

Dan Siti pun menjelaskan makna asosiasi yang lain, hening itu identik dengan sujud, atau sebaliknya: sujud adalah momen keheningan.

"Tuhan telah menjaganya
Dan heningnya itu
Adalah sujudnya"

Dalam "Angin" kita simak uangkapan Zeffa mengenai angin sebagai nada indah dan suara merdu' yang terasa seperti sebuah reportase jurnalistik.

Angin..
Tidak akan pernah habis, ceritamu
Setiap hari berlari denganku
Nada indah dan suara merdu
Untuk alam dan teman-temanku

Dalam puisi "Pasar" Zeffa memberi kita sebuah metafora' Pasar

Banyak orang bertukar barang
Sedikit orang bertukar senyum
Seorang anak ingin membeli senyum
Tapi tak ada yang menjual senyum
Sedihnya..

Dan kita pun dibuatnya berpikir, bahwa pasar, dunia ekonomi yang memang angkuh, yang menghormati manusia, dan menentukan derajatnya sesuai dengan jumlah kekayaan (uang) yang dimilikinya, memang tak pernah merasa perlu tersenyum.

Kita belajar dari puisi Zeffa bahwa banyak hal bisa dibeli. Tapi senyum tidak. Di sini, sekali lagi, saya menikmati kaitan antara permainan kata, simbol dan bunyi, dan asosiasi antara makna suatu kata dengan suatu jenis bunyi,

Saya dan buku puisi ini berdialog dan saling melengkapi. Saya bersyukur sempat meluangkan waktu untuk menikmati indahnya kata, symbol, bunyi dan asosiasi, yang seolah berloncatan secara dinamik dalam dunia nilai yang tak kasat mata.

Anggrek Neli Murni II A No.C.25 Slipi, Jakarta Barat

Dikutp dari: http://www.mitranetra.or.id/puisi/index.asp?mnu=1


Rabu, Mei 18, 2011

Makna Senja

...
Luka seorang lelaki adalah senja
Yang temaramnya menjerit lirih
...

Puisi berjudul Luka Seorang Lelaki itu adalah karya Irwan Dwi Kustanto, seorang penyandang tunanetra. Bersama sejumlah puisi lain, puisi itu dikumpulkan dalam buku Angin pun Berbisik. Antologi puisi itu diluncurkan sekaligus didiskusikan di Gedung Kesenian Jakarta pada Rabu lalu.

Dalam puisi-puisi di buku ini, pria berumur 42 tahun ini mencoba memaknai apa yang dialaminya dengan caranya sendiri, antara lain senja. Irwan menggambarkan senja dalam bentuk bunyi atau suara, yang merupakan salah satu sarana bagi tunanetra untuk berinteraksi.

Hal yang sama ditemui pada puisi-puisinya yang lain. Salah satunya adalah Rinduku padamu.

...
Rinduku padamu: Semerbak mawar
Tak terurai walau merah kelopaknya menggema
Tak terserap walau wanginya menebar
...

Menurut penyair Joko Pinurbo, yang menjadi pembicara dalam bedah buku tersebut, asosiasi yang dihadirkan Irwan dalam sajak-sajaknya memiliki kekhasan sendiri. "Ia memiliki kejujuran yang butuh keberanian mental. Padahal banyak penyair lain yang menyembunyikan perasaannya," kata Joko.

Puisi Rinduku padamu, kata Joko, menunjukkan bagaimana hal yang bersifat individual bisa jadi penerangan bagi orang lain.

Irwan mengakui puisi-puisinya berangkat dari pengalaman pribadi. "Saya hanya mengungkapkan apa yang saya rasakan," ujar ayah tiga putri ini. "Hidup ini indah. Tinggal bagaimana kita menyikapinya," ujarnya.

Pengalaman hidup Irwan yang tidak bisa melihat sejak usia 9 tahun terbilang cukup menyedihkan. Tidak jarang ia mendapat perlakuan kasar dari orang lain. Salah satunya adalah ketika ia dikeluarkan dari tempat kuliahnya di sebuah kampus yang mendidik calon guru di Jakarta. Alasannya, calon guru tidak boleh cacat.

Tak menyerah begitu saja, Irwan kemudian melanjutkan kuliah dan berhasil meraih gelar sarjana dari Institut Agama Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta. Besarnya perhatian teman-temannya membuat Irwan semakin kuat. "Saya punya sahabat yang suka membacakan buku untuk saya," ujarnya.

Selain puisi-puisi Irwan, buku setebal 164 halaman itu juga memuat puisi karya istrinya, Siti Atmamiah, 42 tahun, dan putri sulungnya, Zeffa Yurihana, 11 tahun. Karya Zeffa juga cukup menarik. Lihat saja puisi Pasar yang merupakan metafora terhadap kondisi pasar.


...
Banyak orang bertukar barang
Sedikit orang bertukar senyum
Seorang anak ingin membeli senyum
Tapi tidak ada yang menjual senyum,
Sedihnya...

Zeffa mengaku ayahnyalah yang mengajarinya menulis puisi. Puisi yang ditulisnya ketika berusia 9 tahun tersebut merupakan apa yang ditemuinya ketika pergi ke pasar bersama ibu. "Ayah mengajarkan untuk menulis apa yang ada di hati dan apa yang dirasakan," ujar siswa di Madrasah Ibtidaiyah Al-Azhar Bandung, Tulungagung, ini.

Menurut akademisi sastra Melani Budianta, puisi Pasar itu memberikan kita suatu pelajaran berarti: pasar yang merupakan tempat sosial telah kehilangan nilai sosialnya. "Semuanya hanya didasarkan pada kepentingan," ujarnya.

Seusai bedah buku, malamnya sejumlah acara seni ditampilkan untuk menandai peluncuran buku itu. Ada kolaborasi Irwan dengan pianis Marusya Nainggolan, pertunjukan teater, pembacaan puisi oleh Dewi Lestari, Rieke Dyah Pitaloka, Joko Pinurbo, dan Zefra, serta musikalisasi puisi oleh mahasiswa tunanetra.

TEMPO Interaktif, Jakarta:
Sumber: http://www.tempointeraktif.com/share/?act=TmV3cw==&type=UHJpbnQ=&media=bmV3cw==&y=JEdMT0JBTFNbeV0=&m=JEdMT0JBTFNbbV0=&d=JEdMT0JBTFNbZF0=&id=MTE2MzA5

Kamis, April 21, 2011

Penghargaan Irwan Dwi Kustanto dan Habibie Afsyah

Penghargaan Irwan Dwikustanto
Penyandang tunanetra Irwan Dwi Kustanto dan tunadaksa Habibie Afsyah mendapat penghargaan dari Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo pada saat membuka Pesta Buku Jakarta ke-20 di Istora Senayan, Jumat dua pekan lalu. Keduanya dinilai berprestasi meski menyandang kekurangan. Irwan telah menerbitkan kumpul an puisi berjudul Antologi Puisi Angin pun Berbisik. Adapun Habibie, 22 tahun, menulis buku Kelemahanku Adalah Kekuatanku.

Sumber: http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/07/12/ALB/mbm.20100712.ALB134043.id.html#

Senin, Oktober 18, 2010

Indahnya Memberi

Oleh: Irwan Dwikustanto

Aku bukan siapa-siapa, hanya seorang buta yang ingin bahagia dan memberi apa yang aku punya kepada sesama.

400 Penonton begitu hikmat saat alunan piano Marusya Nainggolan berdialog dengan rangkaian kata-kata yang terjalin dalam sebuah baid puisi "angin pun berbisik". Saat itu aku bagai di altar sebuah Istana langit. Entahlah apa yang ku rasakan saat itu, keharuan, bahagia, keteduhan dan kegembiraan yang luar biasa saat tepuk tangan ratusan orang terdengar bergemuruh ditelingaku.

"Malam ini aku akan melakukan satu hal yang telah 13 tahun dilakukan istriku ini setiap hari", kataku sambil memegang jemari tangan istriku dan dengan lembut kucium lentiknya itu. Gedung Kesenian Jakarta seakan-akan memberi penghormatan kepada kami, dan berucap, "Selamat atas pesta pernikahanmu".

Malam itu, Januari 2008, tak mungkin aku lupakan. Malam yang penuh cinta, malam yang membawa kami dalam sebuah pelangi kehidupan. Tak kurang dari Penyair, Budayawan, Musikus, Artis dan semua orang yang hadir dimalam itu, memandang kami dengan penuh cinta. Lampu- lampu, ornamen-ornamen serta aura gedung seperti berdansa mengelilingi kami. Rieke Dyah Pitaloka, Joko Pinurbo, M.Fajrur Rahman, juga turut bergabung dengan membacakan beberapa puisi yang terhimpun dalam antologi "angin pun berbisik".

Malam itu bagai sebuah perayaan pesta pernikahan yang dihadiahkan bagi aku dan istri. Memang 13 tahun lalu kami menikah dengan acara yang sangat sederhana disebuah desa bernama Bandung, Tulung Agung, Jawa Timur. Dan Peluncuran buku antologi "anginpun berbisik" bagai pesta yang dipersembahkan bagi ikatan cinta kami.

Tak cukup sampai disitu, "angin pun berbisik" lewat sentuhan para musikus, Endah 'n Rhesa, Jodhi Yudono & Irul, Dody & Riko (tunanetra), bermetamorpasa menjadi alunan tembang yang asyik disimak. Sungguh sebuah perayaan cinta yang agung.

Irwan Dwi Kustanto, bila mendengar nama ini tak urung kita bertanya, siapa? Tak ada yang mengenal nama itu sebagai penyair, apalagi dapat sebuah penghormatan dengan pesta peluncuran antologi puisi yang begitu terhormat, di sebuah Gedung bersejarah yang biasa digunakan seniman-seniaman besar sekelas Putu Wijaya. Apa yang melatar belakangi semua itu terjadi? Ijinkanlah aku bercerita.

Setelah hampir 10 tahun aku berusaha untuk mempercepat pengadaan buku-buku Braille di Indonesia, tahun 2004 aku tiba pada titik nadir. Aku merenungkan apa yang bisa ku perbuat untuk mewujudkan cita-cita itu. Aku ingin semua buku yang ada ditoko buku dapat dibeli dan dibaca oleh seorang buta sekalipun.

Pada suatu malam sampailah aku pada sebuah pemikiran:
"Mitranetra, yayasan dimana aku beraktivitas, tak mungkin sendirian melakukannya. Harus ada gerakan massal. Mesti ada sebuah upaya untuk mengajak masyarakat yang berkepantingan dengan buku untuk secara bersama-sama membantu Mitranetra mengetik ulang buku kedalam soft file computer. Para pengarang dan penerbit dengan meminjamkan soft file kepada Mitranetra tentu akan memotong secara signifikan waktu dan biaya pembuatan buku Braille.

Aku menggagas sebuah gerakan bertajuk "Seribu Buku Untuk Sahabat Tunanetra". Semalaman ditemani laptopku yang dapat bicara itu, aku menyusun sebuah konsep yang sekarang dikenal dengan "Seribu Buku Untuk Tunanetra" kedalam sebuah proposal.

Aku dan beberapa teman-teman di Mitranetra menyertakan proposal ini dalam sebuah ajang lomba bergengsi tingkat Asia Pasifik yang digelar oleh Perusahaan Elektronik Internasional. Konsep kami mengalahkan hampir 50 peserta lainnya dari Indonesia. Kami dihadiahi US$65,000 untuk menjalankan sebuah proyek Inovasi dan Pemanfaatan Technology Information (IT) bagi Peningkatan Kualitas Hidup Tunanetra Bidang Pendidikan dan Ketenagakerjaan dan Pembangunan Kesadaran Masyarakat Terhadap Hak Penyandang Cacat di Indonesia.

Januari 2006, program "Seribu Buku untuk Tunanetra" diluncurkan. Kami sungguh optimis, Tantowi Yahya sebagai duta baca buku hadir saat itu memberikan dukungan penuh pada kami. IKAPI dengan Ketuanya Bapak Prof. Mahfudin memberi semangat kami dengan memberi sambutan dan meluncurkan gerakan itu.

Beberapa bulan kemudian FX Rudy Gunawan seorang novelis sekaligus Direktur Penerbit Gagas Media menggalang 7 novelis lainnya (Ayu Utami, Miranda Harlan, Fira Basuki, Icha Rahmanti, Ninit Yunita, Dewi Lestari dan Adhitya Mulya menyerahkan karya mereka untuk di salin kedalam huruf Braille. Dalam acara inilah yang diberi nama "dengan jari kami melihat dunia, dengan jari kita bergandeng tangan"bekerja sama dengan Forum Indonesia Membaca, "angin pun berbisik" memulai ceritanya.

Pada acara di perpustakaan di Senayan yang dihadiri lebih dari 60 wartawan cetak dan elektronik itu, aku mendemontrasikan bagaimana proses buku Braille terbentuk. Dimulai dari pengetikan naskah kedalam Ms-Word, kemudian diconversi menjadi huruf Braille oleh piranti lunak MBC (Mitranetra Braille Converter), dan selanjutnya dicetak dengan menggunakan embosser (Braille printer).

Dalam kesempatan itu naskah yang aku ubah menjadi huruf Braille adalah sebuah puisi karyaku sendiri berjudul "kuharap". Walau agak canggung karena dihadapan artis dan novelis terkenal namun proses pencetakan itupun berjalan dengan baik juga. Untuk memberi kesan kepada seluruh hadirin, sepontan aku mendaulat Fira Basuki untuk membacakan hasil cetakan itu. Tentu Fira tak membaca bentuk Braillenya melainkan tulisan latinnya yang aku tayangkan ke layer LCD.

"wah aku bergetar membacanya" kata Fira selesai membaca puisi itu. Entah karena didaulat secara spontan atau karena memang puisi itu yang membuatnya gemetar? Aku jadi gede rasa (gr) saat itu dibuatnya, terlebih seusai acara FX Rudi Gunawan bilang, "boleh juga puisimu, mana yang lain, kumpulkan ya, nanti kita terbitkan". Begitulah awal kelahiran antologi angin pun berbisik.

Setahun lebih kami (aku, Siti Atmamiah istriku dan Zeffa Yurihana putriku yang berusia 12 tahun) menulis segala yang kami rasakan dalam menjalin hubungan berkeluarga yang terpisah jarak. Memang sejak 2004 aku dan istri serta 3 putriku hidup terpisah. Aku di Jakarta mengelola Mitranetra sedang mereka di Tulung Agung Jawa Timur untuk menjaga nenek dan kakek anak-anakku, yang telah lanjut usia. Kesepian, kerinduan, dan semua yang melekat dihati kami justru menjadi inspirasi mencipta kata dan bersajak.

Sesungguhnyalah "angin pun berbisik" adalah segala rasa yang tumpah dari rasa kesepian, kerinduan, cinta yang tumbuh karena jarak antara kami.

Memasuki 2007, setelah gerakan Seribu Buku untuk Tunanetra berjalan setahun, gerakan itu baru dapat menyalin 300 judul buku. Harus ada bahan bakar tambahan untuk akselerasi pikirku. Disinilah peran "angin pun berbisik". Aku usulkan kepada Istri dan Putriku, "bagaimana bila sajak-sajak ini kita dedikasikan untuk gerakan Seribu Buku Untuk Tunanetra?". Syukur kepada Tuhan, mereka dengan senang hati mendukung niatku itu.

Bagaikan bola salju yang tergelincir dari atas bukit, dukungan dari berbagai pihak deras membentuk bongkahan yang kian lama kian besar. Voice of Human Right, Perkumpulan Seni Indonesia dan Yayasan Mitranetra bahu membahu menyusun karya satu keluarga itu menjadi sebuah antologi cinta bertajuk "angin pun Berbisik".

Niat kami untuk berbagi itu telah di tangkap semesta dan di balasnya kami dengan berlipat-lipat. Bagaimana tidak;

  • "Angin pun berbisik" sepertinya antologi pertama di Indonesia yang ditulis oleh Ayah, Ibu dan Anak dalam sebuah kumpulan sajak cinta.

  • Budayawan Ahmad Sobari berkenan menulis kata pengantar untuk buku ini. Sedang design Cover terkenal Buldanul Khuri dan Ivan Sagita dengan sukarela menuangkan ide lukisan wajah terbalik menjadi cover bernuansa artistic untuk angin pun berbisik.

  • Gedung Kesenian Jakarta yang indah dan megah menjadi saksi lahirnya angin pun berbisik. Melani Budianta, penyair terkenal Joko Pinurbo dan M. Fajrul Rahman dengan penuh antusias menjadi panelis membahas dan mengupas aspek sastra "angin pun berbisik".

  • 26 Januari 2008, Media Indonesia memuat resensi buku "angin pun berbisik" berjudul "Gelora Cinta di Atas Jembatan" oleh Jamal D Rachman seorang penyair sekaligus Pimred majalah sastra Horison

  • Sebuah perusahaan pertambangan besar bersedia mensponsori pencetakan 3.500 eksemplar yang selanjutnya didistibusikan ke toko buku Gramedia. Dan saat tulisan ini dibuat, sedang dilakukan pencetakan kedua.

  • 14 Februari 2008 "angin pun berbisik" diundang dalam talk show yang dibawakan oleh Andy Noya di Metro TV. Kick andy menjadi puncak dari perayaan pesta kami di Januari 2008 yang sebelumnya surat kabar nasional seperti Kompas, Media Indonesia, Suara Pembaharuan, Jakarta Pos, Jawa Pos dan lain-lain menuliskan pesta itu dalam terbitannya.

  • Setelah itu saya juga diundang O’Channel TV, radio-radio seperti D FM, Utan kayu FM, RRI Pro2, Hard Rock FM, Arca Buntung Yogyakarta, Delta FM untuk mengapresiasi "angin pun berbisik"

  • Kami juga tak menyangka, Bapak Bupati Tulung Agung setelah membaca berita kami di "Radar Tulung Agung" mengutus Kepala Dinas Pendidikan Kota Tulung Agung datang berkunjung ke sekolah anak kami Zeffa Yurihana untuk memberikan penghargaan. Perayaan khusus digelar di sekolah Al-Azar Desa Bandung Tulung Agung untuk memberikan apresiasi kepada siswa 12 tahun itu yang telah berprestasi turut menyusun "angin pun berbisik".

  • Endah 'n Resha duo musisi indi yang top bersedia memproduseri Album musikalisasi "angin pun berbisik". Dengan ajakan merekalah, Andre Harihandoyo, Christian (Tiket) DREW, Nino (RAN), Dody – Riqo, Maudy Koesnaedi, Cornelia Agatha, Jodhi Yudono berhasil menyatu dalam sebuah album yang apik dan layak untuk disimak.

  • Pesta belum berakhir, 27 Agustus 2008 di Gedung Sositeit Yogyakarta diluncurkan Album Musikalisasi pusi "angin pun berbisik" dan terjemahan antologi tersebut dalam versi bahasa Inggris bertajuk "Whispering Breeze". Tokoh-tokoh ternama dalam bidang sastra Bakdi Sumanto, Landung Simatupang dan Dorothea Rosa Herliany berkenan membacakan sajak-sajak "angin pun berbisik". Tak kalah menariknya Wali kota Yogyakarta dan band papan atas Letto juga unjuk kebolehan membacakan puisi kami sebagai penghormatan.


Saya sadar kini, "memberi itu memiliki energi yang dahsyat, semesta sebagai Hukum Tuhan tak akan diam, Dia mengembalikan berlipat-lipat setiap apa yang kita berikan walau itu hanya sebuah huruf".
Hidup begitu indah, dan keindahannya sungguh nyata, begitu mempesona, tentu, tat kala kita mau berbagi, mau memberi.

Sumber: Milis Money Magnet@yahoogroups.com
Dikutip dari: http://www.eramuslim.net/?buka=show_artikel&id=877