Oleh: Irwan Dwi Kustanto
Aku berdiri diantara bunga asing itu
Menatap kosong pada wanginya yang bergejolak
Ibu bersandar
Luluh pada perjalanan panjang
Yang siangnya dihadapkan pada lengan anak-anaknya
Sebuah harapan
Untuk melepaskan jerat kaki anaknya
Yang berat
Yang kadang langit memberi hujan saat tangis malam anaknya
Yang gerimis ditebarkan pada langkah kaki anaknya
Ke sekolah dulu
Yang doa-doanya bergemuruh bersama kilat di pagi musim itu
Aku berdiri diantara orang-orang asing itu
Menatap hampa pada wajah mereka yang kering
Ibu bersedekap
Pasrah pada iringan zaman
Untuk menyelesaikan doa bagi anak-anaknya
Yang belum sempat membersihkan halaman rumah
Dari dedaunan kering musim gugur dulu
Yang belum berniat membasuh kaki
Dari debu-debu musim kemarau itu
Juga yang lupa menutup pintu
Entah karena ingin bergurau dengan angin, atau karena meminta bintang bermalam disana
Tapi ibu, sungguh, seluruh hidupmu adalah doa
Takkan usai, walau tanah membasahi seluruh doamu
Aku masih berdiri diantara ilalang asing itu
Menangis lirih pada lambaiannya yang damai
Ibu bersimpuh
Pada Cintanya
Yang tertanam
Pada doa-doanya
Yang terkubur
Pada semua
Yang pernah dititipkan pada anak-anaknya
Abstrak

Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar