Oleh: Irwan Dwi Kustanto
Naiklah kebukit, jika engkau memang berjiwa
Tukarlah cendawan-cendawan dengan janji dan cinta
Untuk tabah di dada
Untuk terus melangkah ke kening
Menjamu para kudus bersila disana
Turunlah dari pelana, engkau yang menua
Tak jua nampak surbanmu memutih
Sabarkah?
Tawakalkah?
Berserahkah?
Masih kutanya, engkau memanjat
Mengalir lembut dalam syair-syair sajak ini
Tak jua merona pada dahi
Walau sujud telah membatu
Kadang aku lupa, engkaukah jiwaku kini?
Dikeningmu, kudengar cemara menari
Bergenderang
Berhanyutan
Melepas zikir-zikir pada langit
Mencari sungai, berkelok pada ruku’
Dan kumasuki ruang-ruang perjamuan kudusmu
Sampai kulihat suaramu menggema
Dan kudengar lagi wajahmu melembuti semesta
Maafkan aku yang tak bermata
Lirih kau menyapa, aku yang fana
Kekasihku kini aku buta, tetapi wajahmu terus mewarna
Tak kudengar apa, namun suaramu merasuki jiwa
Aku yang pergi kebukitmu, engkau yang melembahi
Kini aku tak bernama kecuali cinta
Aku mencintaimu tanpa mata dan telinga
Setelah menembusi berabad-abad kegelapan dan kesunyian
Kekasih, Cintaku kini baka
Abstrak

Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar