Oleh: Irwan Dwi Kustanto
Tatkala mataku dan matamu bersentuhan;
Adalah jelmaan sang “dewi senja”
Yang suaranya keemas-emasan menetes pada batu karang itu
Aku tersenyum, nampaknya cakrawala dipersembahkan
Dengan segunung sesaji dan doa-doa
Katamu; “hidupku terlalu terbiasa dengan angin, kerlip bintang,
Embun pagi, debur ombak dan
Segala keheningan yang melimpah” , namun
“Mengapa kegelisahan tak surut-surut memasuki sukmaku?
Ada yang selalu meminta untuk aku pulang
Tetapi aku tak tahu dimana rumahku
Dimana setiap pagi ibu menyiapkan matahari diberanda
Untukku bawa dan kutanam seharian di bukit-bukit kemarau
Hingga senja mendulang
Aku tetap berlari
Mengejar matahari
Yang tak pernah sabar menanti
Untukku meletakan dan menitip rindu
Pada temaramnya yang selalu membisu
Aku mencintaimu, dengan apa adamu
Abstrak

Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar