Oleh: Irwan Dwi Kustanto
Bunga mawar dihalaman rumah
Berkelopak air mata
Jatuh, menyerah pada matahari
Saat perempuan tak peduli
Saat perempuan menangis
Merahnya yang muram disiraminya
Agar tak ada risau saat angin menerpa
Wahai Bunga mawar diserambi rumah
Mengapa kau dan perempuan sering menangis ?
Apakah duri-durimu, sering menyakiti
Menusuk, menembusi zaman dan kematian
Lalu tersenyum untuk dimanjakan
Tak begitu bukan ?
Tak ada rasa sakit
Tak ada luka
Tak ada duka pada pelupuk mawar yang disentuh perempuan
Karena tangis baginya hanyalah keindahan yang tersembunyi
Abstrak

Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar