Abstrak

Abstrak

Rabu, Mei 20, 2009

IBU

Oleh: Zeffa Yurihana

Sembilan bulan engkau mengandungku
Siang malam ibu menyusuiku
Lelah dan letih tak dirasakan
Kebahagiaan yang ada
Bercita-cita menjadikan anaknya orang yang pintar

Oh...ibu
Kasih sayangmu sangatlah besar
Tak terbalas apa-apa
Tak terbalas emas permata

Oh... ibu
Kini aku sudah besar
Aku akan membahagiakanmu
Selalu...

Selasa, April 14, 2009

GURU

Oleh: Zeffa Yurihana

Aku mendekatimu
Dengan penuh tanda tanya
Kau menolongku
Dari segala kesulitan
Dari segala kesusahan

Oh… guru
Kau mengajariku dengan penuh kesabaran
Kau mengajariku tanpa mengharapkan balas budi
Aku berhutang budi padamu
sejak kau keluar dari buku
Aku menjadi diriku sendiri

Oh... guru
Saat kau meninggalkan langit-langit kelasku
Penuh haru
Aku merindukanmu, sungguh
Terimakasih, doaku menumpah kepadamu

BULAN

Oleh: Zeffa Yurihana
April 2005

Ditengah malam yang gelap
Dengan cahayamu yang terang
Ditemani bintang yang berserakan
Duniaku menjadi terang, karena bulan
Oh bulan…
Cahayamu sangatlah terang
Seperti kelap-kelip mata peri
Ditemani bintang yang sangat banyak
Berenang-renang dilangit luas
Kau tetap indah dan rendah hati
Terimakasih bulan yang telah menerangi alamku

TENGAH MALAM

Oleh: Irwan Dwi Kustanto

Berjalan ditengah malam
Bersama bulan mengikuti dibelakang
Setia berabad-abad
Aku merasa tenang, beriring-iring
Tapi saat kulihat ke bumi
Bayang-bayangku nampak iri, cemburu
Tak henti mengiringi kemana ku melangkah
Ataukah bayang dan bulan sepasang kekasih?
Yang tercipta dari kumpulan doa diantaramu ditengah malam?
Atau keduanya sedang bercinta?
Agar semua yang hidup dapat saling menukar rindu?
Tengah malam diantara bayang dan rembulan
Aku mengaku
Kosong,
Sepi,
Lenyap
Dan ternyata aku adalah bukit peraduan
Antara bulan dan bayang yang sungguh setia
Menjalani takdirnya sendiri, bercinta

SYUKUR

Oleh: Irwan Dwi Kustanto

Alhamdulillah, hari ini ada tanya
Mengapa aku tak mengingatMU?
Sedangkan Engkau tak lepas
Mengirim butir-butir embun pagi tadi
Membasahi hati saat dhuha
Aku tersisih dari luka dan berkata untukMu
Engkaulah diam itu dan aku lembar ruang dan waktuMu.

Alhamdulilah, ada seuntai resah
Berlalu dalam urutan, menunggu sayap-sayapmu dikepakkan
Padahal senja telah meninggalkan doa
Aku bermalam dalam senyap
Berselimut gundah dan bermimpi
Pada sungai-sungai perjanjianmu
Untuk menembusi ruang, dan memasuki waktuMu,
Aku bahkan berkelana
Pada daun-daun kering
Pada karang-karang terjal
Pada mendung yang tak diinginkan
Dan pada kegelapan yang sengaja diletakkan
Aku tak beranjak, memegangi langit
Dan menghirup semerbak kilatmu
Hingga sebutir embun mencukupi seluruh bekalku menemuimu